• News

Carut Marut Keamanan Laut, Legislator Minta Penguatan Regulasi Diprioritaskan

M. Habib Saifullah | Jum'at, 14/02/2025 08:37 WIB
Carut Marut Keamanan Laut, Legislator Minta Penguatan Regulasi Diprioritaskan Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal atau yang kerap disapa Deng Ical (Foto: Ist)

JAKARTA - Carut marutnya keamanan laut tengah menjadi tontonan publik, melihat hal itu, anggota Komisi 1 DPR RI, Syamsu Rizal meminta Presiden Prabowo Subianto agar menunjukkan political will untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

"Dan saatnya regulasi penanganan keamanan laut menjadi prioritas, sehingga penanganan menjadi lebih komprehensif mendukung penegakan hukum," kata Syamsu Rizal dalam keterangannya, Jumat (14/2/2025).

Pada saat rapat Bersama dengan Menteri Koordinator Politik Keamanan Juga Menteri Koordinator Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan awal pekan, Syamsu Rizal mengatakan, Menteri Yusril Ihza Mahendra merekomendasikan penguatan regulasi keamanan laut dan penetapan satu institusi sebagai Coast Guard Indonesia.

Pernyataan itu, kata Deng Ical-sapaan, sangat perlu dan mesti ditindaklanjuti oleh Presiden Prabowo. Pasalnya, saat ini terjadi tumpeng tindih kewenangan dan tupoksi soal keamanan laut.

"Ada 13 KL (kementerian/lembaga) yang terlibat. Dari TNI, Polri, Perhubungan laut, hingga kejaksaan agung," ujar anggota DPR Dapil Sulawesi Selatan ini.

"Banyaknya KL yang terlibat, membuat koordinasi antar sektor menjadi sulit. Bahkan muncul ego sectoral masing-masing. Tentu hal ini akan sangat merugikan karena penanganan menjadi tidak efektif dan efisien," imbuh dia.

Masalah laut jangan dianggap remeh. Deng Ical mengatakan, karena Posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia (Global Martime Nexus-GMN) yang memiliki 5 pilar, yaitu budaya maritim, ekonomi maritim, konektivitas maritim, diplomasi dan keamanan laut.

Beberapa aturan yang over lapping antara lain, UU 32/2014 tentang Kelautan yang memberikan Bakamla sebagai koordinator keamanan laut. UU 17/2008 yang memberi mandat kepada Syahbandar untuk bertanggung jawab soal keselamatan dan keamanan pelayaran.

"Termasuk PP 13 /2022 Tentang penyelenggaraan keamanan, keselamatan dan penegakan hukum di wilayah perairan Indonesia," ujar dia.

Gagasan kedua kementerian koordinator itu, Deng Ical mengatakan, meminta untuk merancang anggaran Pertahanan mendekati 2-4 persen dari PDB Nasional.

"Tentu harus berkoordinasi teknis dengan Kemenhan dan Kemenkeu," ujarnya.

Yang paling penting soal keamanan laut adalah keamanan dan keselamatan warga Indonesia yang cari hidup di laut. Kemudian pencurian hasil laut oleh asing, penyelundupan NARKOBA, dan lainnya.

"Belum lagi secara sektoral adanya pelintas batas negara Ilegal yang sangat merugikan," kata Deng Ical.

"Secara ekonomi sangat merugikan karena potensi kerugian negara bisa mencapai Rp 40 Triliun. Belum lagi multiflier efect yanf sangat merugikan Indonesia dan mengancam pertanian, industri garmen, nelayan dan sektor lain yang perlu mendapatkan perhatian pemerintah," tegas Deng Ical