• Oase

Kemenag: Agama dan Budaya Tidak Betentangan

M. Habib Saifullah | Rabu, 26/02/2025 14:39 WIB
Kemenag: Agama dan Budaya Tidak Betentangan Konferensi Pers Ngaji Budaya (Foto: Ist)

JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) kembali menggelar Ngaji Budaya yang bertajuk "Deklarasi Istiqlal dalam Perspektif Budaya" dengan melibatkan para pemuda, mahasiswa maupun santri pada Rabu (26/2/2025), di Jakarta.

Momentum ini sangat berkaitan dengan semangat bulan suci Ramadan 2025 untuk mengajak para generasi muda menerapkani nilai-nilai Deklarasi Istiqlal melalaui pendekatan budaya sebagai bagian dari penguatan moderasi beragama.

Direktur Jenderal Bimbingan Islam (Dirjen Bimas Islam) Abu Rokhmad mengatakan, agama itu sangat terbuka terhadap budaya, pasalnya budaya menjadi pendekatan efektif untuk mengubah masyarakat.

"Pertama, agama dan budaya bukanlah dua hal yang bertentangan, tetapi saling menguatkan. Islam di Nusantara tumbuh melalui interaksi dengan budaya lokal tanpa kehilangan makna sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam," ujar Abu Rokhmad.

Adapun acara tersebut menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu akademisi dan filolog Oman Fathurrahman, budayawan dari Lesbumi NU Susi Luvaty, serta Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Faried F. Saenong, untuk mendorong pelestarian budaya Islam Nusantara serta membuka ruang dialog antara ulama, budayawan, dan masyarakat.

Lebih lanjut, Abu Rokhmad menambahkan bahwa berdakwah melalui pendekatan budaya dinilai sebagai salah satu instrumen yang efektif, sehingga menciptaka harmoni antara nilai-nilai agama dan tradisi lokal.

"Maka dari itu, dakwah melalui seni dan budaya dapat lebih mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat," ujar dia.

Pendekatan ini juga selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, bahwa bangsa Indonesia diharapkan menjadi masyarakat yang maju, berdaya saing, serta tetap berakar pada nilai-nilai spiritual dan kebudayaan.

Melalui strategi dakwah berbasis budaya, Islam dapat membangun peradaban yang harmonis, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan.

"Ngaji Budaya ini memberi pesan kuat untuk terus mendorong dan mendakwahkan Islam dengan cara berkebudayaan. Saya yakin dengan pendekatan kesenian, sastra, dan kebudayaan akan mengantarkan kita pada Indonesia Emas 2045," kata Abu Rokhmad.