JAKARTA - Seperti gabah dan beras, penyerapan jagung juga berlandaskan Instruksi Presiden (Inpres).
"Tadi di Rakortas Pangan, Bapak Menko sudah putuskan penyerapan jagung produksi dalam negeri juga akan diajukan dalam bentuk Instruksi Presiden (Inpres) seperti gabah dan beras. Tentunya ini untuk mengangkat petani jagung yang kemungkinan panen rayanya di Maret dan April ini," jelas Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi usai Rapat Koordinasi Terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (24/4/2025).
Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), proyeksi total produksi jagung selama 4 bulan di awal 2025 dapat mencapai 5,67 juta ton. Angka tersebut lebih tinggi 880 ribu ton dibandingkan caturwulan 2024. Saat itu produksi jagung berada di angka 4,79 juta ton.
Adanya eskalasi signifikan produksi jagung dalam negeri tentunya disikapi komitmen pemerintah untuk menyerap guna mempertebal stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) yang dikelola oleh Perum Bulog. Sebelumnya pemerintah melalui NFA telah menetapkan HPP untuk jagung di tingkat petani sebesar Rp 5.500 per kilogram (kg). Ini ditetapkan melalui Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 18 Tahun 2025.
Per 21 Maret, total stok jagung yang disimpan Bulog ada 113 ribu ton. Sementara pelepasan CJP kepada peternak layer mandiri juga dilaksanakan. Realisasinya total telah mencapai 2,1 ribu ton yang terdiri dari pelepasan CJP di 2024 sebesar 1,6 ribu ton dan 2025 sebesar 521 ton. Harga pelepasan di Rp 5.500 per kg dengan pengambilan di Gudang Bulog.
"Pemerintah melalui Bulog dengan menyerap jagung petani dan lalu disalurkan ke peternak mandiri, ini menjadi kesinambungan. Jagung pakan memegang andil dalam pembentukan harga daging dan telur ayam, sehingga jika jagung harganya baik, maka daging dan telur juga akan selalu stabil," kata Arief.
"Pemerintah serius ingin angkat petani jagung. Kalau petani padi kan sudah mulai semakin bagus harganya sekarang. Itu yang pemerintah upayakan secara bersama-sama," ucapnya.
Berdasarkan panel harga pangan yang dikelola NFA bersama 1.053 enumerator se-Indonesia, tercatat rerata harga jagung pipilan kering di tingkat produsen berada di Rp 4.859 per kg per 23 Maret. Ini memiliki selisih Rp 641 terhadap HPP jagung yang Rp 5.500 per kg. Sementara rerata harga gabah petani per 23 Maret di Rp 6.574 per kg.
Dalam konferensi pers, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan kembali menegaskan komitmen pemerintah dalam memperhatikan petani. Namun ia meminta agar petani juga berkomitmen menjaga kualitas produk yang diberikan kepada pemerintah melalui Bulog.
"Mudah-mudahan sampai akhir Maret, Bulog bisa menyerap 750 sampai 800 ribu ton, sehingga nanti di April puncak panen bisa menyerap lebih banyak lagi. Dilaporkan tadi, alhamdulillah kita syukuri, sekarang para petani senang karena harga gabah bisa Rp 6.500 (per kg), bahkan di beberapa daerah di atas Rp 6.500," sebut Zulhas.
"Sekali lagi Bulog sudah bekerja keras. Tapi kami juga mohon kalau petani sudah diberi harga bagus, dijaga kualitasnya. Jangan sampai karena mau Lebaran, belum waktunya panen (malah) di panen. Tunggu saja nanti setelah Lebaran. Tapi kalau sudah waktunya, silakan, karena kita harus jaga kualitasnya juga, kalau enggak, nanti enggak bisa disimpan, enggak bisa diproses," pintanya.
Hal senada juga pernah disampaikan oleh Kepala NFA Arief Prasetyo Adi dalam Rapat Koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (20/3/2025). Saat itu, Arief menekankan agar para pimpinan daerah dapat turut membantu memastikan kualitas gabah petani yang diberikan petani ke Bulog.
Apabila gabah berkualitas rendah, misalnya dengan kadar air 40 persen, yang masuk ke Bulog, akan mempengaruhi stok Cadangan Pangan Pemerintah ke depannya. Ini karena penyerapan di tahun ini oleh Bulog akan disimpan sampai setahun kemudian. Tatkala gabahnya berkualitas rendah, maka akan sulit tahan lama.