• Bisnis

DPR Desak BPK Segera Audit Program Hilirisasi Nikel

Budi Wiryawan | Senin, 14/08/2023 22:20 WIB
DPR Desak BPK Segera Audit Program Hilirisasi Nikel Ilustrasi. Salah satu pekerja di pabrik feronikel Antam di Pomalaa menunjukan feronikel (foto:Dok. Humas PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM/ kompas.com )

JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengaudit kebenaran data penerimaan negara dari program hilirisasi nikel.

Bukan tanpa alasan, menurut dia, audit perlu dilakukan mengingat peningkatan penerimaan tersebut dirasa tidak masuk akal.

“Agar fair BPK harus dapat memastikan berapa nilai penerimaan negara sebenarnya dari program hilirisasi nikel ini. Sebab angka yang disampaikan Pemerintah terlalu bombastis dan tidak masuk akal," ujar Mulyanto, dalam keterangan resminya, Senin (14/8).

Wakil Ketua Fraksi PKS ini menilai, klaim Pemerintah yang diulang-ulang oleh Presiden Jokowi, akan adanya kenaikan signifikan terkait ekspor nikel dari Rp17 triliun menjadi Rp510 triliun pada tahun 2022 merupakan hal yang sangat janggal, sekaligus meragukan.

Dia menduga, angka tersebut bukanlah jumlah penerimaan negara melainkan total nilai ekspor nikel oleh perusahaan smelter asing yang ada di Indonesia.

"Jangan-jangan angka itu bukan penerimaan negara, namun sekedar angka ekspor nikel yang dilakukan oleh industri smelter asing, yang keuntungannya terutama dinikmati oleh investor smelter tersebut. Dan sama sekali, bukan merupakan penerimaan negara. Ini kan beda jauh tafsirnya," ujar Mulyanto.

Hal ini yang kemudian dikritik ekonom senior Faisal Basri. Oleh karena itu, Mulyanto mendesak Pemerintah transparan dalam menyatakan besaran penerimaan negara dari hilirisasi nikel, demi mencegah adanya salah tafsir di masyarakat.

Dia menyebutkan, Pemerintah perlu menjelaskan secara gamblang sumber penerimaan negara tersebut. Terlebih, kata Mulyanto, industri smelter selama ini mendapat tax holiday pph badan, tidak membayar PNBP (penerimaan negara bukan pajak), serta bebas dari pajak ekspor. Bahkan, penerapan pajak ekspor produk hilirisasi nikel setengah jadi (NPI) pun baru direncanakan akan berlaku pada tahun 2022, namun tertunda hingga hari ini.