JAKARTA - Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) mendorong para guru mengambil peran lebih besar dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.
Guru dinilai menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter generasi muda agar mampu menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan jati diri bangsa.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Denpasar yang diselenggarakan di Hotel 100 Sunset, Kuta, Bali, pada Jumat, 6 November 2026.
Kegiatan ini diikuti oleh ratusan guru dari berbagai sekolah di Kota Denpasar dan menghadirkan lima Anggota MPR RI sebagai narasumber. Sosialisasi ini bertujuan memperkuat pemahaman dan penghayatan para pendidik terhadap nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika, sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dan ditanamkan kepada peserta didik.
Dalam kegiatan tersebut, Anggota Badan Sosialisasi MPR RI, Sonny T. Danaparamita, hadir mewakili Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Dr. H. Abidin Fikri yang berhalangan hadir.
Dalam sambutannya, Sonny menegaskan bahwa guru memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun karakter dan membentuk kepribadian generasi penerus bangsa. Menurutnya, tugas guru tidak sebatas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai moral, etika, serta semangat kebangsaan.
“Guru bukan hanya mengajarkan mata pelajaran, tetapi juga membentuk karakter anak-anak Indonesia. Di tengah tantangan global, disrupsi teknologi, dan perubahan zaman, guru merupakan benteng pertama dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda,” ujar Sonny.
Sementara itu, Anggota MPR RI Ir. Abraham Liyanto menyoroti pentingnya menjaga kekayaan bahasa daerah dan keberagaman budaya sebagai salah satu identitas sekaligus kekuatan bangsa Indonesia. Ia mengingatkan bahwa keberagaman tersebut merupakan warisan bangsa yang harus terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Indonesia memiliki lebih dari 2500 bahasa daerah dan ribuan kebudayaan. Ini merupakan kekayaan luar biasa yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Tugas guru adalah memastikan anak-anak kita mengenal, mencintai, dan bangga terhadap budaya sendiri sebelum mengenal budaya dari luar,” tegas Abraham.
Pada kesempatan yang sama, Anggota MPR RI Wihadi Wijanto menyampaikan perhatian terhadap peningkatan kesejahteraan guru. “Kami di MPR RI terus mendorong agar kesejahteraan guru menjadi perhatian negara. Guru memiliki peran penting dalam menentukan masa depan bangsa, sehingga sudah selayaknya negara memberikan perhatian dan penghargaan terhadap pengabdian mereka,” jelas Wihadi yang disambut tepuk tangan peserta.
Selanjutnya, Anggota MPR RI Dr. H. MZ. Amirul Tamim menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh guru atas dedikasi dan pengabdiannya dalam mendidik generasi muda serta menanamkan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI melalui proses pembelajaran di sekolah.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan karakter bangsa tidak dapat dilepaskan dari peran dan ketulusan para guru yang setiap hari membimbing, mendidik, dan memberikan keteladanan kepada peserta didik.
“Perjuangan Bapak dan Ibu guru mungkin tidak selalu terlihat saat ini, tetapi hasilnya akan dirasakan oleh bangsa ini puluhan tahun mendatang. Kami sangat menghargai dedikasi para guru yang tanpa lelah menanamkan nilai-nilai Pancasila dan semangat kebangsaan di ruang-ruang kelas,” ujarnya.
Menutup rangkaian penyampaian materi, Anggota MPR RI Ahmad Labib mengingatkan pentingnya membekali generasi muda dengan kecakapan dan etika dalam memanfaatkan teknologi digital, khususnya dalam penggunaan media sosial. Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi harus diimbangi dengan penguatan karakter dan pemahaman nilai-nilai kebangsaan.
Menurutnya, guru memiliki tanggung jawab untuk membimbing peserta didik agar mampu menggunakan ruang digital secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab, serta tidak mudah terpengaruh oleh penyebaran berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, maupun konten negatif lainnya.
“Anak-anak kita saat ini hidup di dunia digital. Guru harus membimbing mereka agar tidak terjebak dalam hoaks, ujaran kebencian, dan konten negatif. Bermedia sosial juga harus tetap berlandaskan nilai-nilai Pancasila,” pesan Ahmad Labib.
Sementara itu, Ketua PGRI Kota Denpasar, Drs. I Ketut Suarya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada MPR RI atas kepercayaan yang diberikan kepada PGRI Kota Denpasar sebagai mitra dalam pelaksanaan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi dapat menjadi awal dari kerja sama yang berkelanjutan dalam memperkuat wawasan kebangsaan dan karakter para pendidik.
Melalui kegiatan ini, MPR RI berharap para guru tidak hanya menjadi penerima materi sosialisasi, tetapi juga menjadi agen penggerak dan teladan dalam mengimplementasikan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Guru memiliki peran penting dalam menentukan wajah Indonesia di masa depan. Melalui pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai kebangsaan, diharapkan lahir generasi muda yang cerdas, berkarakter, memiliki semangat persatuan, serta mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
Kegiatan ditutup dengan dialog interaktif antara para narasumber dan peserta. Sesi ini menjadi ruang bagi para guru untuk menyampaikan pandangan, pertanyaan, serta berbagai persoalan aktual terkait pendidikan dan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Acara kemudian diakhiri dengan foto bersama seluruh narasumber dan peserta.









