Oase

Nabi Sulaiman AS dan Semut Pelajaran Kerendahan Hati Penguasa

Pelajaran kerendahan hati penguasa dari kisah Nabi Sulaiman AS dan semut yang mengajarkan sifat tawadhu, kepedulian, serta rasa syukur.
Ilustrasi semut dalam kisah Nabi Sulaiman AS

Katakini.com - Kisah interaksi antara Nabi Sulaiman AS dan kawanan semut memberikan iktibar berharga mengenai keagungan akhlak serta kerendahan hati seorang raja.

Nabi Sulaiman AS merupakan sosok pemimpin agung yang dianugerahi kekuasaan melimpah serta mukjizat unik berupa kemampuan memahami bahasa berbagai jenis binatang.

Suatu hari, beliau sedang memimpin perjalanan tentara megah yang terdiri dari pasukan manusia, jin, hingga kawanan burung dalam barisan yang sangat teratur.

Saat melintasi suatu lembah, seekor raja semut menyerukan peringatan kepada pasukannya agar segera masuk ke dalam sarang demi menghindari injakan tentara.

Seruan sang semut agar kawanan mereka tidak tertindas oleh pasukan Nabi Sulaiman AS diabadikan secara indah dalam Al-Qur'an Surah An-Naml ayat 18.

Mendengar ucapan mungil dari makhluk kecil tersebut, Nabi Sulaiman AS tersenyum dan tertawa ramah tanpa ada sedikit pun rasa sombong di hatinya.

Momen haru saat Nabi Sulaiman AS tertawa mendengar perkataan semut tersebut termaktub secara jelas dalam firman Allah SWT Surah An-Naml ayat 19.

Alih-alih merasa jumawa dengan kekuatannya, raja yang sangat perkasa ini justru langsung memanjatkan doa kesyukuran atas nikmat yang Allah karuniakan.

Dalam doa tersebut, Nabi Sulaiman AS memohon bimbingan agar senantiasa bersyukur serta diberi kemampuan untuk mengerjakan amal saleh yang diridai-Nya.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa seorang penguasa sejati tidak boleh sewenang-wenang maupun meremehkan rakyat kecil dan makhluk ciptaan Allah yang paling lemah.

Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya sifat kerendahan hati dalam hadis riwayat Muslim nomor 2588 bahwa tidaklah seseorang bertawadhu melainkan Allah mengangkat derajatnya.

Nabi Sulaiman AS mengajarkan adab bahwa semakin tinggi jabatan dan kekuasaan yang dimiliki, hendaknya semakin tunduk serta takut kepada Allah SWT.

Beliau memberi teladan nyata bahwa setiap nikmat kepemimpinan merupakan ujian berat yang wajib dipertanggungjawabkan dengan penuh kasih sayang dan kepedulian.

Kepedulian terhadap mahluk terkecil menjadi bukti autentik betapa tingginya peradaban dan kedalaman rasa empati yang dimiliki oleh seorang nabi Allah.

Semoga petikan hikmah dari kisah inspiratif ini mampu membimbing para pemimpin serta kita semua untuk senantiasa memelihara sifat tawadhu dalam kehidupan.